Saya ingin membagikan sebuah refleksi sederhana tentang bagaimana saya memandang setiap proses belajar di sekolah kita, bukan hanya hasil akhirnya. Sebagai pendidik, kita sering kali dituntut oleh target angka, ketepatan waktu, dan hasil akhir yang sempurna. Namun, pengalaman saya bersama salah satu siswa, beberapa waktu lalu benar-benar mengubah cara pandang saya.
Saya ingat betul peristiwa menantang itu. Beberapa tahun lalu ada seorang siswa yang jarang sekali hadir di sekolah. Tugas-tugasnya selalu terlambat, bahkan banyak yang tidak dikumpulkan sama sekali. Nilainya tentu saja di bawah KKM dan pada tiap akhir semester dia punya beberapa mata pelajaran yang harus diselesaikan dengan remidi.
Setelah setahun bersama maka untuk menghindari remidi di akhir jenjang, saya harus mengupayakan agar setiap penilaian dapat dia ikuti dan menghasilkan nilai di atas KKM.
Jujur, prosesnya sangat melelahkan. Bahkan pernah saya dan beberapa guru yang lain harus proaktif mencari, mengejar, dan memastikan siswa ini mau datang ke sekolah demi memperbaiki nilainya.
Pada akhirnya, mukjizat kesabaran itu nyata. Lewat perjuangan bersama, siswa tersebut akhirnya bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dan dinyatakan lulus.
Kalau boleh jujur tentang perasaan saya saat proses itu berlangsung, rasanya campur aduk. Pada awalnya, ada rasa lelah, jengkel, dan cemas. Rasanya gemas sekali melihat siswa yang seolah tidak peduli dengan masa depannya. Tapi, begitu melihat nama siswa itu tercantum dalam daftar kelulusan, rasa lelah dan jengkel itu langsung menguap. Berganti menjadi rasa lega dan haru yang luar biasa. Saya sadar, di balik rasa jengkel, ada masa depan seorang anak yang sedang Tuhan titipkan lewat tangan saya.
Pada tahun awal mengajar, saya sempat berharap bahwa tugas sebagai guru akan jauh lebih indah kalau semua siswa tertib, penurut, dan langsung dapat nilai bagus tanpa merepotkan saya. Hal ini membuat saya pernah berpikir pada hasil akhir yang sangat mudah untuk diraih.
Akan tetapi setelah sekian lama mengajar, saya berpikir hal yang berbeda. Saya disadarkan bahwa esensi dari Pendidikan Karakter Vinsensian justru diuji saat kita berhadapan dengan siswa yang paling rapuh dan bermasalah. Proses mencari dan mengejar anak yang "tersesat" ini adalah rupa nyata dari semangat Santo Vinsensius. Kelulusannya bukan cuma sekadar angka di atas kertas, tapi sebuah kemenangan dari proses kasih, kerendahan hati, dan kesabaran yang tidak menyerah pada keadaan.
Beberapa perubahan kecil dan konkret yang selalu akan saya lakukan ke depan untuk pengembangan diri saya adalah ketika nanti menemui siswa yang sulit atau pekerjaan yang menantang, saya tidak lagi melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai panggilan pelayanan yang suci, saya akan lebih proaktif. Saya akan mencoba lebih peka mendeteksi siswa atau situasi kerja yang mulai melambat, lalu merangkulnya sejak awal, sebelum masalahnya menumpuk di akhir semester. Dan saya ingin terus melatih kelembutan hati khas Vinsensian setiap hari, agar tidak mudah menyerah saat proses pendampingan berjalan lambat. Karena seperti kata Santo Vinsensius, "Gusti Allah bekerja secara perlahan-lahan."
Oleh karena itu, saya mengajak rekan-rekan sekalian, mari kita jadikan sekolah ini tempat yang ramah bagi setiap proses tumbuh kembang siswa-siswa kita.
Terima kasih, Tuhan memberkati pelayanan kita semua. Santo Vinsensius, doakanlah kami. Amin.
Surabaya, 29 Agustus 2026
Sugiarti