Di hari Senin yang indah, pagi hari yang cerah, senyum yang merekah, dan siap belajar untuk menentukan arah. Saya berjalan cepat menuju ke kelas dan berkata : “Anak- anak hari ini kita belajar matematika materi Eksponen Logaritma yaaa..” Lalu tiba-tiba ada salah satu anak berteriak “BUUU, TIDAKKK”. Dan langsung kelas sangat riuh bukan karena bangga namun riuhan kekesalan dan helaan napas panjang yang sepertinya sengaja ditunjukkan ke saya. Kemudian saya dengan rasa bangga mengatakan “Loh materi matematika itu adalah ibu dari semua ilmu pengetahuan lho”. Bukannya membuat mereka tambah penasaran dan semangat belajar matematika namun mereka malah semakin mengeluh, lesu, dan menutup bukunya. Lalu saya coba pancing dengan soal matematika eksponen tingkat SD yang sangat mudah sekali dan saya tawarkan siapa yang mau mengerjakan di depan. Bukannya antusias, anak-anak malah panik dan tambah lesu. Ada yang sibuk membolak-balikkan buku seolah akan menemukan jawabannya di buku, ada yang menunduk dalam-dalam seperti menanggung beban di pundak, ada yang pura-pura menulis tapi pulpennya tidak menyentuh kertas. Akhirnya saya tunjuk salah satu anak untuk coba mengerjakan di depan. Anak tersebut seakan-akan menerima kabar buruk dengan wajah kaget, mata yang melotot seolah mau copot, dengan cepat ia menggelengkan kepala seakan-akan ditunjuk uji nyali di tempat berhantu. Anak itu menjawab “Bu saya tidak bisa, saya takut salah Bu”. Lalu ada anak menyeletuk “Bu bisa nggak sih matematika dihilangkan dari muka bumi?” Saya hanya tertawa, saya kira anak-anak sangat lebay. Namun ternyata itu adalah ungkapa mereka yang serius.
Saya yang awalnya ingin tertawa, gregetan, dan bingung tapi lama-lama.. kok sedih ya? Saya percaya mereka tidak mungkin tidak bisa mengerjakan soal itu namun mereka takut, bukan berarti tidak mampu, tapi karena sudah ditanamkan keyakinan bahwa mereka pasti gagal. Dengan ketakutan mereka terhadap matematika itu bukan karena matematika yang sulit yang tidak bisa dipahami, mungkin karena mereka pernah gagal dan malu, mereka pernah salah lalu ditertawakan, mereka pernah bingung tidak paham, tapi tetap dipaksa jalan, dan yang paling sering mereka takut di cap “bodoh”. Saya termenung, saya merasa bersalah, tiba- tiba saya merasa seperti dokter yang selama ini sibuk menyodorkan obat rumus dan latihan soal, tanpa menyadari bahwa pasiennya belum siap minum bahkan belum sembuh dari trauma. Saya sedih, selama ini saya pikir anak-anak malas atau tidak fokus. Ternyata mereka hanya sedang berjuang diam-diam dengan rasa takut yang mungkin kita (para guru) ciptakan juga tanpa sadar. Kalau saya terus ajarkan matematika dengan cara yang sama, saya hanya menambah panjang daftar trauma anak-anak dengan matematika.
Matematika tak pernah jahat, namun cara kita mengajarnya bisa menakutkan. Saya mulai ubah cara mengajar saya secara menyeluruh dan menanamkan prinsip: buat mereka nyaman dulu, baru paham. Ada 4 hal khas dari pembelajaran saya : Saya mengubah istilah “Latihan Soal” dengan istilah “Math Journey”. Saya ubah soal dengan kalimat yang lebih relevan yang mereka sukai. Lalu saya memodelkan soal matematika seakan mereka harus memecahkan persoalan selayaknya detektif yang memiliki banyak cara. Saya memberikan poin positif bagi anak-anak yang aktif bertanya minta mengulang materi jika belum paham, menjawab (meskipun salah), dan berani maju ke depan (sepemahaman mereka dan tanpa mempedulikan jawaban benar atau salah).
- Saya mengusahakan beberapa materi ada tugas proyek kelompok di luar kelas supaya mereka tidak merasa jenuh matematika hanya di kelas saja
- Saya setiap minggu menjadwalkan anak-anak untuk bergantian menjadi asisten pribadi saya (untuk membantu menjelaskan kepada teman-teman yang masih bingung, membantu memberikan latihan soal kepada teman-temannya dan membahasnya).
Saya perubahan dalam diri mereka, berdasarkan fakta data dari penelitian yang Pak Rio lakukan, sebanyak 76% siswa suka dan mereka kenang pembelajaran matematika saat saya masuk di kelas mereka. Dulu saya ingin mengukur keberhasilan dari nilai ulangan, sekarang saya merasa bangga melihat wajah lega dan senyum lebar mereka saat mengerjakan soal dan berkata “Oh, gitu toh”. Dulu saya ingin mereka cepat bisa, sekarang saya lebih bahagia jika mereka berani dan berproses lebih percaya diri. Mereka bukan takut dan membenci matematika, namun mereka belum menemukan guru yang tidak hanya mengajar namun mendampingi proses belajar mereka. Semoga kita semua terus menjadi guru yang bukan hanya bisa menghitung jawaban, tetapi juga menghitung dampak kebaikan yang kita tebarkan. Kata-kata hari ini : Matematika bukan bencana, melainkan ilmu sederhana yang bisa mengubah dunia.
Guru Matematika SMAK St. Louis 2
Johanna Dian Natalis S.Pd