Di sebuah tongkrongan sepulang sekolah, suara tawa bercampur musik dari ponsel terdengar ramai. Beberapa anak duduk santai sambil bermain game, sebagian lagi sibuk membuat konten untuk media sosial. Di sudut tempat duduk, seorang remaja mengeluarkan sebungkus rokok lalu menawarkannya kepada teman-temannya.
“Coba aja sekali,” katanya santai.
“Biar kelihatan dewasa.”
Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa bagi banyak remaja. Tidak sedikit anak muda mulai merokok karena rasa penasaran, ingin dianggap keren, atau takut dianggap tidak gaul. Padahal tanpa disadari, keputusan kecil itu bisa berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Setiap tanggal 31 Mei, dunia memperingati World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Peringatan ini menjadi pengingat penting bahwa generasi muda berhak tumbuh sehat, aktif, dan bebas dari ketergantungan rokok maupun vape.
Menurut World Health Organization (WHO), tembakau menyebabkan lebih dari 8 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar disebabkan oleh penggunaan rokok secara langsung, sementara sekitar 1,3 juta lainnya terjadi pada perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar.
Di Indonesia sendiri, jumlah perokok usia remaja masih menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa usia pertama kali mencoba merokok semakin muda, bahkan ada yang mulai sejak usia sekolah dasar. Lingkungan pergaulan, rasa penasaran, dan pengaruh media sosial menjadi beberapa faktor utama penyebabnya.
Banyak remaja menganggap merokok membuat mereka terlihat lebih percaya diri. Namun kenyataannya, rokok justru perlahan mengambil banyak hal penting dari kehidupan mereka. Napas menjadi lebih mudah lelah saat olahraga, uang jajan cepat habis, bahkan konsentrasi belajar dapat terganggu karena tubuh mulai bergantung pada nikotin.
Nikotin adalah zat yang dapat menyebabkan kecanduan. Pada usia remaja, otak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terhadap pengaruh zat adiktif. Itulah sebabnya seseorang yang mulai merokok sejak muda cenderung lebih sulit berhenti ketika dewasa.
Kini, vape atau rokok elektrik juga semakin populer di kalangan anak muda. Bentuknya modern, aromanya beragam, dan sering dianggap lebih aman dibanding rokok biasa. Padahal banyak cairan vape tetap mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang dapat memengaruhi kesehatan paru-paru. Centers for Disease Control and Prevention menjelaskan bahwa penggunaan vape pada remaja dapat berdampak pada perkembangan otak dan meningkatkan risiko ketergantungan nikotin.
Selain berdampak pada kesehatan, rokok juga memengaruhi kondisi ekonomi remaja. Jika satu hari menghabiskan Rp20.000 untuk membeli rokok, maka dalam satu bulan pengeluaran bisa mencapai:
Dalam 30 hari:
- Rp600.000
- Dalam setahun: Rp7.200.000
Uang sebesar itu bisa digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, menabung gadget, mengikuti kursus, atau membantu mewujudkan cita-cita.
Menjadi remaja keren sebenarnya bukan tentang mengikuti semua hal yang dilakukan orang lain. Keren yang sesungguhnya adalah mampu menjaga diri, memiliki prinsip, dan berani menentukan pilihan baik untuk masa depan.
Dibutuhkan keberanian untuk berkata, “Tidak, aku tidak mau merokok.” Namun keberanian seperti itulah yang menunjukkan seseorang benar-benar percaya diri.
Hari Tanpa Tembakau mengajarkan bahwa menjaga kesehatan bukan berarti membatasi masa muda. Justru dengan tubuh yang sehat, remaja bisa lebih bebas mengejar mimpi, berkarya, berolahraga, dan menikmati hidup tanpa ketergantungan.
Karena pada akhirnya, yang membuat seorang remaja terlihat hebat bukanlah asap rokok di tangannya, melainkan mimpi besar yang sedang ia perjuangkan.
Guru Bimbingan Konseling SMAK St. Louis 2
Robertus Dedy K., S.Pd