Menjadi bagian dari tim katolisitas sekolah merupakan suatu kebanggaan bagiku. Tugas yang sama pernah aku lakukan sekitar 3 tahun lalu, yang dimana saya dibantu oleh Pak Sasangka. Dari yang aku tidak tahu apa-apa terkait dengan hal yang berbau katolisitas, menjadi punya cukup pengetahuan. Berawal dari peristiwa ini aku mulai belajar untuk punya rasa bangga menjadi seorang katolik dan mencintai tugas saya sebagai tim katolisitas.
Satu peristiwa yang menarik perhatianku mulai tahun lalu dan berlanjut hingga tahun ini, adalah aku diberi tanggung jawab berproses bersama dengan siswa yang direkomendasikan walikelas untuk diseleksi menjadi KSK, atau Kader Siswa Katolik. Dari namanya saja sudah ada kata “katolik”, maka jelas ini untuk mereka yang beragama katolik. Ada kata kader juga, sehingga mereka yang tergabung disini merupakan siswa katolik yang terpilih.
Di tahun 2022 saya mulai berproses sebentar dengan 8 siswa KSK yang sekarang kelas 12, dilanjutkan tahun lalu berproses kembali dengan tambahan 10 siswa KSK yang sekarang kelas 11, dan yang terakhir tahun ini ada tambahan 15 calon siswa KSK yang sekarang masih kelas 10. Hal yang membuat aku cukup terhenyak adalah sebagian besar dari mereka belum punya pemahaman yang cukup akan hal-hal katolik yang seharusnya sudah umum dilakukan atau minimal diketahui oleh orang katolik. Hal-hal sederhana seperti doa rosario, doa pagi yang kadang tidak diawali dengan tanda salib, masih bingung mencari bacaan Injil di buku Ruah, dan yang lainnya. Kadang saya bertanya dalam hati, “Bagaimana keluarganya di rumah? Apakah tidak mengajarkan tentang hal-hal katolisitas yang umum diketahui? Waktu baptis/komuni pertama/krisma bagaimana? Apakah tidak diajarkan di masa katekumen?” Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku.
Terlepas dari semuanya itu, aku perlahan menyadari bahwa lewat tugas ini aku diminta untuk semakin mengenalkan Tuhan pada siswa St Louis 2, terlepas apapun agamanya. Melalui kegiatan seperti misa, ibadat kelas, menjadwalkan petugas doa sentral, dan yang lain. Bukan untuk memaksa mereka yang non katolik untuk masuk katolik, tetapi sebatas mengenalkan dulu. Urusan mereka suatu saat mau login ke katolik, kembali ke pribadi masing-masing. Yang jelas, aku merasa sangat bangga dan bertanggung jawab atas pengenalan dan menghidupi hal-hal katolisitas ini oleh siswa-siswi St Louis 2. Ditambah sekarang ada bestie saya di katolisitas, Pak Rengga, yang kebetulan adalah ex cater CM, membuat saya semakin bersemangat melaksanakan tugas ini dengan baik. Walaupun secara data menunjukkan bahwa hampir 60 persen siswa St Louis 2 adalah Kristen, namun aku percaya dan mau terus berusaha supaya SMAK ini tetap menjadi SMA Katolik, yang siswanya punya rasa bangga menjadi seorang katolik. Terima kasih.
Guru Bahasa Inggris SMAK St. Louis 2
Benedictus Dhaniar Ardra, S.Pd