Pendidikan Vinsensian St. Louis 2
Pendidikan Vinsensian SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya
oleh: Bernadus Widodo
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan memiliki tujuan untuk mencetak generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang berbudi. Tidak hanya itu, pendidikan juga mendorong perubahan menuju hal yang lebih baik dari generasi ke generasi. Melalui pendidikan, diharapkan dapat melahirkan hal-hal yang inovatif, kreatif serta mencetak generasi yang mampu membawa perubahan. Ki Hajar Dewantara menyatakan pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya,
Pendidikan Vincensian, memiliki arti pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai dan semangat Vincensian. Pendidikan ini menekankan pada pengajaran dan pelatihan yang berfokus pada pertumbuhan manusia secara utuh, baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Pendidikan vinsensian bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi unggul dan peduli pada sesama manusia, memiliki kemampuan kepemimpinan yang melayani (servant leadership) dan sekaligus dalam semangat Roh Kristiani dan semangat vinsensian.
Sekolah-sekolah vinsensian memfokuskan diri dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai vinsensian untuk setiap warga sekolah. Nilai-nilai inti tersebut meliputi compassion (belarasa), competence (kompetensi), dan vincentian virtues (keutamaan vinsensian).
- Compassion (belarasa/belas-kasih)
Belas kasih merupakan karakter Allah yang utama. Dengan mengenal Allah yang berbelas kasih, setiap orang dipanggil untuk menjadi pribadi yang berbelas kasih kepada sesama, terutama yang miskin dan menderita. Belarasa atau belas-kasih harus terwujud dalam tindakan-tindakan konkrit yang efektif untuk memperjuangkan kemanusiaan secara komprehensif yang melahirkan solidaritas (Prager, 2002)..
- Competence (kompeten/cerdas)
Kemampuan mengembangkan kompetensi yang dimiliki baik kemampuan fisik, intelektual, sosial, ketahan-malangan, dan spiritual, sehingga dimanapun mampu secara kreatif mengembangkan dirinya terus-menerus, dan mampu berkolaborasi dengan semua orang, serta mampu merefleksikan pengalaman perjumpaan dengan orang miskin (Dosen, 2005). Sekolah-sekolah vinsensian mengembangkan kemampuan intelektual atau kecerdasan setiap peserta didik, sekaligus membentuk hati yang berbelas kasih kepada sesama.
- Vincentian Virtues (keutamaan/spirit Vinsensian)
Lima keutamaan Vinsensian merupakan fondasi karakter pendidikan Vinsensian. St. Vinsensius mengajarkan lima keutamaan yang menjadi kekhasan sikap dan perilaku vinsensian, yaitu kesederhanaan, kerendahan hati, kelembutan hati, matiraga, dan semangat menyelamatkan jiwa-jiwa. Kelima keutamaan ini berasal dari fondasi hidup Kristus, Sang Pewarta Kabar Baik kepada orang miskin.
- Kesederhanaan (simplicitas), merupakan sikap batin yang memfokuskan diri pada kehendak Tuhan, bukan mencari kemuliaan atau popularitas diri sendiri. Kesederhanaan berarti keaslian (genuinness) dan transparansi (Maloney, 2017). Kesederhanaan terwujud dalam sikap polos, tulus, jujur, tidak mendua, dan tidak berbelit-belit baik dalam bertutur kata maupun dalam berperilaku.
- Kerendahan hati (humilitas), merupakan relasi yang benar dengan diri sendiri dengan berani menerima diri apa adanya. Kerendahan hati merupakan inti atau pokok dari hidup rohani (Maloney, 2017). Kerendahan hati menghapus persaingan dan kepalsuan, karena orang yang rendah hati tidak mencari kuasa, namun siap sedia melayani dan membantu siapa saja. Kerendahan hati terwujud dalam sikap mau mendengarkan dan kesediaan untuk diinjili oleh orang miskin, guru dan majikan kita (Maloney, 2017).
- Kelembutan hati (mansuetudo), merupakan relasi yang benar dengan sesama yang semartabat dan sepadan dengan diri kita. Kelembutan hati terwujud dalam sikap sopan dan santun serta percaya diri dalam memperlakukan sesama dengan penuh hormat.
- Matiraga (mortificatio), merupakan sikap menyangkal diri dan mengendalikan ego dan ambisi yang seringkali membelenggu. Matiraga berarti berani melepaskan suatu hal yang baik demi sesuatu hal yang baik lainnya dan bekerja keras dalam apapun yang kita kerjakan (Maloney, 2017). Matiraga mengantar pribadi untuk merasakan kehadiran Tuhan dan mendengarkan kehendak-Nya, sehingga membantu melampaui kepentingan diri-sendiri untuk peduli dan tanggap pada sesama dan kebutuhannya.
- Keselamatan jiwa-jiwa (zealus animarum), merupakan semangat untuk menyelamatkan manusia seutuhnya. Keutuhan hidup manusia tercermin dalam martabat manusia yang luhur yang membutuhkan pendidikan, keterampilan, pembinaan mental sesuai dengan situasinya dan kesempatan kerja.
Dilandasi oleh tiga “core value” di atas lulusan pendidikan vincensian akan memiliki karakter sebagai profil lulusan sebagai berikut:
- Pribadi yang dekat dengan Tuhan
Pendidikan vinsensian tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membangun relasi dengan Tuhan dan sesama. Relasi dengan Tuhan membawa pribadi-pribadi beriman, sedangkan relasi dengan sesama mewujudkan pribadi yang toleran dan peduli dengan sesamanya. Pendidikan beriman tercetus dalam pengetahuan agama dan pemahaman akan nilai-nilai katolisitas, serta ketaatan pada nilai-nilai etika dan moral yang benar. Pendidikan toleransi berkaitan dengan sikap menanggung bersama dengan yang lain suka-duka kehidupan. Toleransi mencakup penerimaan, penyambutan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Menjadi pribadi yang toleran berarti berusaha untuk menghayati pesona keanekaragaman kehidupan. Pendidikan kepedulian menjadi bagian yang sentral dari kedewasaan edukasional yang menjadi keprihatinan dari kharisma Vinsensian. Peserta didik harus memiliki kepribadian yang menyambut orang lain sedemikian rupa, sehingga kelak talentanya menjadi perpanjangan rahmat Tuhan bagi orang lain.
- Pribadi yangyang rendah hati
Menjadi pribadi yang berani memaafkan dan minta maaf merupakan sebuah perkembangan yang mengandaikan proses tidak mudah. Pribadi yang rekonsiliatif adalah pribadi yang mendasarkan hidupnya pada kemurahan Allah. Pribadi yang sportif berarti pribadi yang tidak menyimpan dendam, tetapi mengedapankan perdamaian dan cinta kasih. Pribadi yang rekonsiliatif tidak meletakkan kekerasan dan konflik dalam hidupnya. Apabila ada salah pengertian, dirinya mengusahakan dan menempuh cara-cara kreatif untuk meraih perdamaian. Pribadi yang rekonsiliatif menjadi karakter masa depan manusia.
- Pribadi yang solider atau setia-kawan
Menjadi pribadi yang solider atau setia-kawan adalah pribadi yang mengedepankan pengalaman suka-duka orang lain. Pribadi solider memiliki gambaran penghormatan yang baik tentang orang lain yang terbatas, yang punya kesedihan atau kegembiraan, dan yang membutuhkan pertolongan. Menjadi solider berarti menjadi “one of them” menjadi salah satu dari “mereka” yang mengalami suka-duka.
- Pribadi relasional dan kolaboratif atau gembira dan suka bekerjasama
Pribadi yang relasional adalah pribadi yang terbuka dan bersedia menjalin relasi dan mampu bekerjasama dengan semua orang, tanpa harus ikut arus. Menjadi pribadi yang kolaboratif adalah pesona indah yang bisa digapai oleh peserta didik di setiap jenjangnya. Di sini peserta didik menghayati diri sebagai sosok yang hidup di antara teman-temanya dan mampu mengambil sikap yang baik dalam menanggapi kebutuhan. Latihan kerjasama tidak hanya diberikan karena kerjasama itu penting, melainkan juga dengan kesadaran bahwa kemampuan kerjasama merupakan esensi kedewasaan kepribadian.
- Pribadi yang kritis dan kreatif atau berdaya-cipta
Pribadi yang kritis adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan sikap untuk berpikir secara mendalam, objektif, dan analitis terhadap suatu masalah atau informasi sebelum mengambil kesimpulan atau keputusan. Pribadi yang kritis, selain cerdas dalam mengkaji dan menelaah apapun yang sedang dihadapinya, juga mempunyai sikap selalu bertanya, memiliki daya imaginasi, daya eksplorasi, daya berkolaborasi. Pribadi yang demikian mampu ber-relasi secara intens dengan realitas secara kritis agar daya imaginasi dan eksplorasi semakin berkembang. Menjadi pribadi yang kreatif adalah dambaan dari setiap peserta didik. Setiap peserta didik yang kreatif memiliki gambaran-gambaran perkembangan bagi dirinya sendiri. Peserta didik yang kreatif memiliki keberanian untuk mengambil inisiatif dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi tanpa takut berbuat salah (Kim, 2018).
.
- Pribadi yang suportif atau bersikap mendukung
Menjadi pribadi yang suportif memaksudkan perkembangan kepribadian yang maju. Peserta didik yang suportif tidak hanya berkembang dalam pesona kedewasaan tetapi juga memiliki imbas positif bagi orang lain. Pribadi yang memiliki kekampuan mendukung orang lain merupakan sebuah capaian perkembangan yang sulit..
- Pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab
Pribadi yang kritis adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan sikap untuk berpikir secara mendalam, objektif, dan analitis terhadap suatu masalah atau informasi sebelum mengambil kesimpulan atau keputusan. Pribadi yang bertanggung jawab adalah seseorang yang menyadari dan menjalankan kewajiban serta tugasnya dengan baik dan penuh kesungguhan. Orang yang bertanggung jawab mampu menerima konsekuensi dari setiap tindakan dan keputusannya, serta berani mengakui kesalahan jika terjadi. Menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab merupakan pesona lain dari pertumbuhan manusia. Manusia begitu memesona sedemikian rupa sehingga dirinya adalah pemilik atas perbuatan dan hidupnya (bertanggung jawab).
- Pribadi yang menjunjung tinggi nilai dan norma Katolisitas
Menjadi pribadi yang menjunjung tinggi nilai dan norma katolisitas merupakan parameter pendidikan yang baik. Proses pendidikan yang mengantar peserta didik menjadi pribadi yang mencintai norma dan nilai etika memiliki jenjang-jenjang yang menarik dalam pertumbuhan. Dalam konteks ini nilai kejujuran dan ketulusan menjadi salah satu cetusannya. Peserta didik mampu bersikap jujur, tulus, tidak menyontek dalam ujian dan mengerjakan tugas, serta bersikap dewasa dalam meraih keberhasilan maupun dalam menghadapi kegagalan dalam proses pembelajaran.
- Pribadi yang disiplin dan tertib
Bagi Santo Vincentius, saat mendengar “bel” berbunyi sama dengan mendengar suara Tuhan yang memanggil. Ungkapan ini hendak mengatakan bahwa disiplin dan tertib merupakan pribadi yang “siap” dibentuk oleh Allah sendiri.
Disiplin mula-mula berupa taat peraturan atau tidak melanggar ketentuan. Tetapi, disiplin berarti juga memandang diri sendiri sebagai pribadi yang terus-menerus belajar. Disiplin berasal dari kata Latin, discipulus, yang artinya murid, pembelajar. Jadi, berlatih disiplin berarti menempatkan diri sebagai pembelajar yang tidak mengenal batas waktu.
Disiplin di sekolah menjadi ukuran paling sederhana. Artinya, nilai ketaatan pada tata tertib perlu dimaknai dengan baik. Taat kepada tata tertib bukan untuk menghindari hukuman atau denda. Taat merupakan sikap dari Kristus sendiri yang taat kepada kehendak Bapa-Nya. Jadi, nilai “ketaatan” dimaknai sebagai sarana untuk menyelamatkan orang lain.
- Pribadi yang peka, ramah dan responsif terhadap tanda-tanda zaman
Menjadi pribadi yang peka, ramah, dan berteman secara dewasa mengandaikan suatu proses yang diusahakan terus menerus. Perlu dipahami bahwa “peka’, “ramah”, dan “berteman” bukanlah karakter atau sifat, tetapi lebih memudahkan kapasitas (kemampuan). Karena itu, kepekaan dan keramahan serta kedewasaan dalam berteman harus dilatihkan terus-menerus.
SMA Katolik St Louis 2 Sebagai salah satu lembaga Pendidikan Vincensian mengimplementasikan tiga “core value” / pilar Pendidikan Vincensian dalam visi-misi sekolah, rencana strategis jangka panjang, rencana jangka menengah dan rencana kerja anggaran sekolah tahunan sekolah.
Visi SMA Katolik St. Louis 2 adalah menumbuhkembangkan pribadi utuh vincensian. Pribadi utuh yang dimaksud tercermin dalam misi sekolah yakni :
- Menumbuhkembangkan semangat tinggi untuk mewujudkan potensi diri
- Menumbuhkembangkan cinta terhadap lingkungan
- Mengembangkan budi pekerti dan berbudaya
- Menciptakan etos belajar yang tinggi
- Mewujudkan nilai-nilai Injil, terutama pada yang miskin dan lemah.
Tujuan SMA katolik St. Louis 2 adalah :
- Terciptanya peserta didik yang menumbuhkembangkan potensi diri dan cinta lingkungan
- Terciptanya mental dan karakter peserta didik yang dapat menjadi contoh dalam masyarakat, khususnya dalam hal keimanan mendalam serta kepedulian terhadap yang miskin dan lemah
- Terciptanya peserta didik yang kreatif dan inovatif dalam menenukan terobosan- terobosan menghadapi kemajuan zaman yang semakin global
- Terciptanya peserta didik yang secara optimal menguasai teknologi yang selalu berkembang
Sebagai cerminan visi dan misi yang menginspirasi sekaligus menjadi arah bagi pengembangan profil lulusan dirumuskanlah tag line sekolah. Tagline ini menjadi gambaran umum yang mencerminkan semangat, nilai, dan karakteristik sekolah dalam bentuk yang mudah dikenali dan diingat. HALO Slouder’s menjadi tagline SMA Katolik St. Louis 2 yang membumikan core value, profil lulusan, visi-misi sekolah :
- Honest : jujur
Pribadi yang jujur adalah sifat atau karakter yang menunjukkan kesesuaian antara hati, ucapan, dan perbuatan seseorang dengan kenyataan yang sebenarnya Jujur berarti 1) lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya); 2) tidak curang (misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku): 3 tulus; ikhlas; Dalam buku kurikulum vincensian, peserta didik mampu bersikap jujur, tulus, tidak menyontek dalam ujian dan mengerjakan tugas, serta bersikap dewasa dalam meraih keberhasilan maupun dalam menghadapi kegagalan dalam proses pembelajaran. Menjunjung tinggi nilai moral tidak sama dengan perilaku yang sekedar menghindari hal-hal buruk atau yang tidak kita inginkan saja. Peserta didik mampu memahami diri dan dengan jujur mampu menerima diri dan terbuka akan perubahan.
2. Amiable : ramah
“Ramah” adalah perilaku yang baik hati, baik dalam tutur kata maupun sikapnya serta menyenangkan dalam pergaulan. Dalam buku kurikulum vincensian menjadi pribadi yang peka, ramah, dan berteman secara dewasa mengandaikan suatu proses yang diusahakan terus menerus. Perlu dipahami bahwa “peka’, “ramah”, dan “berteman” bukanlah karakter atau sifat, tetapi lebih memudahkan kapasitas (kemampuan). Karena itu, kepekaan dan keramahan serta kedewasaan dalam berteman harus dilatihkan terus-menerus. Sekolah memfasilitasi pelatihan kemampuan untuk memiliki kepekaan, keramahan, dan pertemanan secara dewasa. Latihan ini biasanya melibatkan beberapa pihak, seperti kepedulian orangtua, guru-guru, maupun kerjasama alumni dan masyarakat.
3. Learner : pembelajar
Pembelajar artinya orang yang sedang belajar (learning) : proses memperoleh pengetahuan, perilaku, ketrampilan atau nilai-niali baru atau berbeda. Learning memiliki makna lebih luas yakni sebagai titik balik transformasidari keahlian lamake keahlian baru, dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru dan dari pola piker lama ke pola piker buru. Kedewasaan pembelajar perlu dibangun bukan hanya sekedar kualitas guru. Learning 5.1 adalah Upaya menembus batas bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dipelajari
4. Optimistic : optimis
Optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal. Menurut Mc Ginnis, ciri khas dari optimis di antaranya adalah:Tidak kaget menghadapi kesulitan, Berusaha mencari penyelesaian atau pemecahan atas kesulitan yang dihadapi, Yakin bahwa masa depan ada dalam kendalinya, Menghentikan alur pemikiran negative, Meningkatkan apresiasi terhadap kemampuan diri, Senantiasa berimajinasi untuk melatih kesuksesan, Selalu bergembira, bahkan saat menghadapi kesulitan,Yakin bahwa kekuatan individu hampir tidak terbatas, Mencintai kehidupan, Suka memberikan kabar baik, Menerima apa yang tidak bisa diubah
Profil lulusan, visi-misi, tujuan dan tagline sekolah merupakan pijakan utama dalam merancang program kerja yang terarah dan menyeluruh. Visi dan misi menggambarkan tujuan dan komitmen sekolah dalam membentuk karakter dan kompetensi siswa sesuai nilai-nilai yang dipegang. Profil lulusan menjadi gambaran rinci dari hasil pendidikan yang diharapkan, sementara tagline sekolah merepresentasikan identitas dan semangat yang ingin diwujudkan. Dengan keselarasan keempat aspek ini, program kerja disusun secara strategis untuk memastikan pencapaian tujuan pendidikan yang optimal dan peningkatan kualitas pendidikan dan pembelajaran di SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya.
Sekolah the best proses dengan ciri terlaksananya pembelajaran dan penilaian kolaborasi. Pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran dengan membagi siswa menjadi kelompok-kelompok yang kerjanya didukung oleh kemandirian yang dimiliki oleh setiap individu anggota kelompok yang akan mampu membentuk suasana belajar kerjasama yang diikuti oleh rasa saling ketergantungan dengan penuh tanggung jawab di antara anggota-anggota kelompoknya (Zamroni, 2000). Penelitian Hayatin Nisa, dkk (2018: 157) bahwa pembelajaran kolaboratif dalam konteks pendidikan dipuji secara luas sebagai praktik yang mampu mengembangkan dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Jadi dengan penerapan pembelajaran kolaboratif mampu dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar dari peserta didik. Dengan pembelajaran kolaborasi guru bekerja sama dan belajar bersama mengembangkan pembelajaran serta dapat menjadi salah satu metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang memfasilitasi peserta didik di sekolah. Kolaborasi dalam mendesain pembelajaran ini pun memberi pengalaman baru bagi guru model dalam mempersiapkan pembelajarannya (Endang & Sangaji, 2020). Bukan hanya guru, peserta didik melakukan kolaborasi dengan harapan sesuai dengan keunggulannya yang disampaikan oleh Hill & Hill (1993) 1) prestasi belajar lebih tinggi; 2) pemahaman lebih mendalam; 3) belajar lebih menyenangkan; 4) mengembangkan keterampilan kepemimpinan; 5) meningkatkan sikap positif; 6) meningkatkan harga diri; 7) belajar secara inklusif; 8) merasa saling memiliki; dan 9) mengembangkan keterampilan masa depan.
Sistem penilaianpun harus mampu memberikan gambaran peserta didik secara utuh baik dalam sikap, pengetahuan dan ketrampilan peserta didik dengan menggunakan penilaian autentik. Penilaian autentik digunakan dalam pembelajaran kolaborasi di sekolah. Penilaian autentik juga diartikan sebagai penilaian yang dilakukan secara menyeluruh, meliputi kompetensi sikap; pengetahuan; dan keterampilan (Harianto 2021; Prihantoro 2021). Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2015) menyebutkan dua kunci hakikat penilaian autentik ialah kinerja dan bermakna. Berdasarkan Authentic Assesment Framework (AAF), Bosco & Ferns (Ajjawi, R. 2020) mengungkap empat kriteria penilaian autentik: 1) keterlibatan siswa dalam konteks/audiens tempat kerja; 2) keterlibatan kognitif berkualitas tinggi; 3) siswa secara reflektif menilai kinerja; dan 4) industri berkontribusi pada penilaian. Dengan model penilaian seperti ini sangat memungkinan untuk kolaborasi antar mapel dalam melakukan penilaian, sehingga diharapkan penilaian tengah semester merupakan ajang untuk penilaian kolaborasi peserta didik. Pendidik juga dapat mempraktekkan penilaian autentik pada capaian pembelajaran yang sudah direncanakan pada awal tahun pelajaran. Agar pelaksanaan pembelajaran kolaboratif dan penilaian autentik ini dapat mulai berjalan dengan baik perlu direncanakan juga belajar dengan sekolah yang sudah melakukan atau mengundang narasumber untuk memberikan ide/gagasan yang menarik untuk pelaksanaan dan penilaian pembelajaran kolaboratif.
Implementasinya pembelajaran kolaborasi memiliki tiga tahapan perencanaan, proses dan penilaian. Tahap perencanaan pembelajaran kolaborasi adalah kesepakatan antara guru mata pelajaran untuk melakukan kolaborasi pembelajaran di kelas. kesepakatan dibuat agar seluruh guru mengikuti semua tahapan awal sampai akhir pembelajaran kolaborasi dan ditemukan benang merah antar mapel tersebut, dengan analisis capaian pembelajaran bersama (missal penelitian sosial) / dapat menentukan tujuan pembelajaran bersama. Selanjutnya menentukan bentuk assessment dan model pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Setelah asesmen dan tujuan pembelajaran membuat alur tujuan pembelajaran dengan langkah-langkah pembelajaran pada setiap pertemuannya. alokasi waktu pembelajaran kolaborasi. pada akhirnya pembelajaran ini agar tersusun secara terstruktur dibuatlah perangkat pembelajaran diantaranya, bahan ajar, media pembelajaran, asesmen berupa rubrik, lembar kerja peserta didik, jadwal pembelajaran, dan modul ajar. Setelah perencanaan matang tahap selanjutnya tahap proses pembelajaran yang diawali sosialisasi pembelajaran. Langkah terakhir adalah penilaian pembelajaran berdasarkan rubrik yang ditentukan (penilaian dilakukan sejak proses pembelajaran , pre test, post test / penilaian autentik).
Untuk mewujudkan hal tersebut diharapkan para guru mempraktekan model pembelajaran inkuiri dan project based learning. Pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran yang menekankan proses penyelidikan dan pengamatan oleh peserta didik secara aktif dan mandiri. Prosesnya meliputi perumusan masalah, membuat hipotesis, pengumpulan data (eksplorasi), pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Pada awalnya guru memberikan bimbingan intensif yang secara bertahap dikurangi sehingga siswa dapat belajar mandiri sebagai peneliti yang aktif. Sedangkan PjBL adalah model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menugaskan mereka untuk menyelesaikan proyek yang nyata. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan masalah atau studi kasus, kemudian siswa secara aktif mengelola proyek, bekerja secara kolaboratif, dan menghasilkan produk/hasil nyata. Melalui model tersebut diharapkan peserta didik menjadi pusat pembelajaran, aktif , kolaboratif, berpikir kritis , kreatif dan mandiri untuk mewujudkan profil lulusan yang dimimpikan bersama.
Manajemen kesiswaaan, dimulai dengan perencanaan, penerimaan, dan dukungan untuk siswa selama masa sekolah dan terus meningkatkan pendidikan peserta didik dengan membuat lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan sepanjang proses pembelajaran (Astuti, 2021). Tujuan pengelolaan peserta didik adalah untuk memastikan bahwa kegiatan peserta didik membantu proses pembelajaran di sekolah. Berkontribusi pada prestasi akademik dan berkontribusi pada tujuan pendidikan umum (Zahroh, 2022). Sedangkan prestasi adalah hasil kegiatan yang dilakukan atau diciptakan oleh individu atau kelompok (Khalijah et al., 2023). Secara umum, istilah “akademik” dan “non-akademik” mengacu pada dua jenis aktivitas atau prestasi yang berbeda di sekolah. Akademik mencakup segala sesuatu yang terkait langsung dengan proses belajar-mengajar di sekolah formal, seperti : matematika, ilmu pengetahuan, sejarah, bahasa, dan literatur. Prestasi akademik biasanya diukur melalui ujian, tugas, tes, dan penilaian lain, yang berfokus pada penguasaan materi pelajaran dan pemahaman konsep. Sebaliknya, non-akademik mencakup segala sesuatu yang tidak terkait langsung dengan proses belajar-mengajar di sekolah formal, mencakup aktivitas ekstrakurikuler seperti : olahraga, seni, musik, drama, kegiatan sosial, sukarela, dan organisasi siswa. Pencapaian dalam aktivitas tersebut biasanya diukur dengan prestasi non-akademik, seperti menang dalam kompetisi olahraga, melakukan pekerjaan seni yang baik, atau berhasil dalam proyek sosial. Ada tiga hak yang dilakukan oleh SMA Katolik St. Louis 2 : pertama mengevaluasi program ektrakurikuler dan menyusun rencana yang baru sehingga jenis kegiatan ektrakurikuler menunjang target pencapaian siswa yang berprestasi. Kedua menaikan jumlah siswa yang memiliki prestasi sebanyak 35 % dari jumlah peserta didik. Keterlibatan pendidik, tenaga kependidikan maupun pembina harus semakin ditingkatkan. Demikian juga wali kelas harus bener benar mengenal potensi peserta didik sehingga mampu mendorong peserta didik untuk berprestasi. Orang tua peserta didik juga harus disadarkan pentingnya anak memiliki kepercayaan diri , bangga pada diri sendiri dan memiliki rasa optimis dengan prestasi yang diraihnya. Ketiga merevitalisasi pembinaan prestasi akademik dan bekerja sama dengan perguruan tinggi serta alumni untuk melakukan pembinaan. Pembinaan prestasi akademik nantinya akan meliputi empat bidang yakni science ipa, science ips , debat dan esai serta bahasa inggris. Untuk pembinaan akan dilakukan oleh para guru dan bekerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan di kota Surabaya.
Setiap lembaga pendidikan didirikan tentu memiliki nilai nilai yang ditanamkan dan diperjuangkan bersama anggota komunitas. Demikian hal nya dengan persekolahan di bawah lembaga pendidikan Vincensian tentunya diinspirasi dan dimotivasi oleh nilai-nilai yang diperjuangkan Santo Vincentius. Ada lima keutamaan, selanjutnya dinamakan nilai Vincensius yang menjadi semangat lembaga untuk berkarya. Lima keutamaan tersebut bersumber dari pandangan khasnya terhadap Yesus Kristus yakni: kesederhanaan, kerendahan hati, lemah lembut, matiraga, dan semangat untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.
Sebagai sekolah di bawah naungan Yayasan Lazaris yang menghidupi spiritualitas vincensian yang tentunya menjadi nilai-nilai yang mendasari pendidik, tenaga kependidikan, staf sekolah, para coordinator dan pembina dalam mengembangkan layanan pendidikan do SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya. Sebagai warga vincensian tentunya kita harus senantiasa meneladani dan mempraktekan dalam pelayanan pendidikan di sekolah. Kecintaan dan pengabdian Santo Vincentius kepada orang miskin dipondasikan pada pengalaman rohani yang mendalam; dan perjumpaannya dengan orang miskin dikontemplasikannya sebagai sebuah pengalaman rohani bertemu dengan Tuhan sendiri. Semangat ini yang tetunya senantiasa membakar diri kita terus mencari segala cara untuk melayani orang-orang yang kurang mampu di sekolah. Pertama baksos untuk Masyarakat sekitar sekolah secara kolaboratif dari berbagai unit kegiatan, melibatkan peserta didik , orang tua dan alumni. Baksos harus didahului dengan kajian peserta didik sehingga implementasi dari belajar semakin nampak dan keterlibatan peserta didik meningkat. Kedua Memberikan beasiswa pada peserta didik yang memiliki prestasi dan bantuan bagi mereka yang membutuhkan
Perkembangan teknologi belajar dan perubahan pendekatan pembelajaran harus disikapi dengan bijak didasari oleh nilai-nilai pendidikan vincensian yang mendasari pendidikan di SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya. Pendekatan pembelajaran mendalam, koding dan artifisial tentunya membawa dampak pada cara pembelajaran dilakukan oleh pendidik. Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu. Pengalaman belajar / langkah-langkah pembelajaran pada pendekatan pembelajaran mendalam terdiri dari pertama Memahami, tahap awal peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial, pengetahuan aplikatif, dan pengetahuan nilai dan karakter. Kedua, Mengaplikasi Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan. Ketiga, Merefleksi Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.
Pendekatan pembelajaran mendalam menuntut pendidik lebih akrab dengan teknologi, terus mengembangkan diri sehingga semakin mampu menggunakan artifisial intelligent untuk menunjang pembelajaran yang dilakukan. Beberpa hal yang dipersiapkan oleh sekolah menghadapi perubahan paradigma pembelajaran mendalam dengan beberapa langkah : a) sharing oleh pendidik yang sudah mengikuti sosialisasi pembelajaran mendalam ke rekan guru dan sekaligus mempersiapkan pelatihan pendekatan pembelajaran mendalam ini pada para guru. b) sekolah menyiapkan pelatihan tahap dua tentang penggunaan atifisial intelligent bekerja sama dengan perguruan tinggi. Untuk mendukung hasil pelatihan tersebut sekolah mulai menyiapkan learning manajemet system (LMS), sehingga hasil pelatihan guru dapat langsung digunakan untuk pembelajaran peserta didik secara mandiri ; c) untuk mendukung layanan pendidikan di SMA Katolik St. Louis 2 sekolah mulai menyusun standar operasional prosedur reward dan punishment pendidik dan tenaga pendidikan, sehingga diharapkan layanan pendidikan semakin meningkat
Melaksanakan beberapa hal di atas memang bukan hal yang mudah, namun sekolah harus segera berbenah dan menyesuaikan diri dengan perkembangan saat ini sehingga tetap eksis ditengah perubahan yang begitu cepat. Dengan melaksanakan renstra, rencana kerja tahunan secara efektif dan efesien dan didukung dengan penganggaran yang cermat diharapkan dapat meningkatkan berbagai layanan di sekolah ini. Sehingga 10 profil lulusan kian nyata hadir dan diwujudkan dalam perilaku peserta didik, pendidi, tenaga kependidikan orang tua maupun alumni. Dan dengan berbagai praktek kegiatan sekolah di atas, karakteristik lulusan sekolah ini semakin mudah dikenali oleh Masyarakat yani peserta didik SMA Katolik St. Louis 2 , anak-anaknya : jujur, ramah, pembelajar dan optimis