Banyak reaksi kimia berlangsung reversible (bolak-balik). Reaksi reversible terjadi jika terdapat dua zat kimia bereaksi membentuk zat baru dan sebagian zat baru tersebut bereaksi membentuk zat kimia asalnya. Apabila kecepatan pembentukan zat baru menjadi sama dengan kecepatan reaksi sebaliknya maka tercapai keadaan kesetimbangan. Persamaan kesetimbangan dituliskan dengan dua anak panah berlawanan yang menunjukkan reaksi ke kanan dan ke kiri dapat terjadi.
Contoh pada persamaan reaksi: aA + bB  D cC + dD

Suatu reaksi dikatakan mengalami reaksi yang setimbang apabila kecepatan reaksi ke kiri dan ke kanan sama besar. Dikatakan kecepatan pembentukan produk dengan kecepatan kembali menjadi reaktan adalah sama besar. Apabila kesetimbangan telah tercapai bukan berarti reaksi menjadi berhenti tetapi merupakan suatu petunjuk bahwa kecepatan kedua reaksi menjadi sama.
Peranan konsentrasi di sini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap arah pergeseran kesetimbangan demikian pula dengan pengaruh yang lain seperti pengenceran dan perubahan suhu. Pengaruh ini telah diteliti oleh Le Chatelier yang mengemukakan suatu prinsip yang sangat terkenal yaitu “Setiap perubahan pada salah satu variable sistem kesetimbangan akan menggeser posisi kesetimbangan ke arah tertentu yang akan menetralkan/ meniadakan pengaruh variable yang berubah tadi”.
Dalam keadaan kesetimbangan, konsentrasi masing-masing komponen sistem tidak berubah terhadap waktu. Tujuan percobaan ini adalah untuk mengamati apa yang dilakukan oleh suatu system kesetimbangan kimia jika “pihak luar” mengubah konsentrasi salah satu atau semua komponen. Pada percobaan pengaruh konsentrasi dapat dilihat pada larutan besi. Sistem kesetimbangan yang diamati adalah yang terjadi pada pencampuran larutan besi (III) klorida dengan larutan kalium tiosianat:

Fe3+(aq)  + p 3SCN(aq) D  Fe(SCN)3(aq)

Kuning       tidak               merah

Jingga        berwarna        darah

Fe (SCN)3 berwarna merah darah. Perubahan intensitas warna menunjukkan arah pergeseran kesetimbangan. Jika karena suatu “aksi” warna larutan bertambah merah, hal ini menujukkan bahwa Fe (SCN)3 bertambah, berarti kesetimbangan bergeser ke kanan. Pada percobaan ini harus digunakan tabung reaksi yang sama ukurannya, karena intensitas warna larutan tidak hanya bergantung pada konsentrasi spesi warna tetapi juga ada ketebalan/ tinggi larutan. Perhatikan gelas yang penuh air teh. Warnanya tampak lebih tua jika dilihat dari arah samping.

Selain konsentrasi, suhu juga berpengaruh terhadap reaksi kesetimbangan. Senyawa yang dapat membentuk reaksi kesetimbangan banyak terdapat pada senyawa kompleks seperti senyawa tembaga dan kobalt. Pada percobaan ini akan digunakan senyawa tembaga (Cu). Larutan CuSO4 yang ditambahkan dengan NaCl akan membentuk senyawa kompleks [CuCl4]2− dengan adanya pemanasan. Pada saat pendinginan akan tersusun kembali bilangan koordinasi senyawa kompleks dalam suatu reaksi kesetimbangan. Masing-masing senyawa memberikan warna yang berbeda pada larutan. Berikut persamaan reaksi kesetimbangannya:

[CuCl4]2− D [Cu (H2O)6]2+

Saat dipanaskan, teerbentuk senyawa kompleks [CuCl4]2− yang berwarna hijau, sedangkan saat didinginkan terbentuk senyawa kompleks [Cu (H2O)6]2+ yang berwarna biru.

Rahati Arniayu, S.Si

Guru Kimia SMA Katolik St. Louis 2 Surabaya