Pengantar
            Kita sebagai Vinsensian sebetulnya hanya sebagai followers, sedangkan Santo Vinsensius adalah role model-nya. Kita hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Vinsensius di zamannya, karena ia sebagai trendsetter karya belas kasih di dalam Gereja. Mau tahu lebih lanjut, kita akan melihat bagaimana konteks zaman yang dialami Gereja, secara khusus Gereja Perancis. Terutama munculnya Revolusi Perancis, banyak menghantam wajah Gereja karena dianggap tidak berpihak di kalangan orang miskin yang sejalan dengan kaum revolusioner Perancis. Selain itu kita akan melihat bagaimana Gereja mencoba menyesuaikan diri dengan zamannya pasca Revolusi Perancis.

Konteks Zaman
            Sejak kekristenan diterima sebagai agama yang diakui oleh kekaisaran Romawi, Gereja sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan/ bangsawan atau raja. Bahkan pengangkatan raja harus mendapat persetujuan dari Paus untuk mendapatkan legitimasinya. Mau tidak mau Gereja terlibat dalam lingkaran kekuasaan politis dan tidak memperhatikan kaum miskin.
Gereja Perancis juga berada pada posisi yang sama, sehingga dianggap tidak memihak orang-orang miskin. Saat terjadi Revolusi Perancis, kerajaan (karena tempat para bangsawan) dan Gereja mengalami kehancuran yang sangat dahsyat. Gereja semakin dibenci oleh masyarakat Perancis. Keberadaan Gereja dianggap sebagai pendukung kerajaan dan bangsawan yang ada di dalamnya. Gereja dihancurkan dan para imam serta biarawan-biarawati banyak yang menjadi korban revolusi.
Gereja mencoba menyesuaikan diri supaya keberadaannya diterima dalam masyarakat. Gereja Perancis perlu berterima kasih pada sosok Vinsensius karena ia dianggap sebagai trendsetter karya belas kasih yang sangat diterima oleh semua kalangan Perancis saat itu. Maka dari mulai sini banyak bermunculan serikat-serikat atau organisasi-organisasi yang mengikuti spirit atau semangat Vinsensius untuk melakukan karya belas kasih.
Belajar dari Vinsensius
Vinsensius seorang imam yang sederhana, berkat pergulatan panggilannya, dalam proses jatuh bangun mengenali panggilannya, menemukan Kristus dalam diri orang miskin. Ia mengenakan semboyan “Evangelizare pauperibus misit me” (bisa diartikan: Aku diutus mewartakan kabar baik kepada orang-orang miskin, berdasarkan Lukas 4: 18).
Dua peristiwa penting yang menjadi tonggak munculnya dua karyanya yang penting adalah peristiwa di Folleville dan Chatillon Les Dombes. Peristiwa Folleville dianggap sebagai hari berdirinya CM (Konggregasi Misi) karena saat itu, pada tanggal 25 Januari 1617 melalui kotbah Peringatan Bertobatnya Rasul Paulus, ia mengajak seluruh umat untuk mengaku dosa. Pesan ini ditanggapi oleh umat sehingga banyak umat yang mulai mengaku dosa sehingga memunculkan karya Misi Umat. Dari Misi Umat ini nantinya Vinsensius mendirikan serikat yang mampu menangani pelayanan rohani, yaitu Konggregasi Misi (CM).
Peristiwa yang kedua terjadi di Chatillon Les Dombes, Vinsensius melalui kotbahnya mengajak umat untuk mau membantu salah satu umat miskin yang sakit. Kotbahnya ditanggapi umat dengan memberikan bantuan kepada si miskin yang sakit itu dengan memberikan makanan, bahkan sampai berlimpah. Makanan yang berlimpah itupun akhirnya membusuk tak berguna karena jumlahnya yang terlalu banyak. Dari peristiwa ini Vinsensius merenungkan bahwa bukan tidak ada orang baik yang mau membantu, tetapi tidak ada yang mengorganisasi bantuan tersebut. Peristiwa ini yang membuat Vinsensius akhirnya mendirikan Persaudaran Kasih, yang menjadi cikal bakal berdirinya serikat Puteri Kasih (PK) sebagai serikat yang mampu menangani pelayanan jasmani.
Vinsensius dianggap sebagai pembaharu wajah Gereja karena berani menampilkan karya yang tidak familiar di zamannya. Misalnya, para suster yang didirikannya harus berani ke luar biara untuk pelayanan. Karena pada saat itu, yang namanya biarawati hanya tinggal di gedung biara tanpa boleh ada yang keluar. Yang kedua, ia mengajar calon imam dan awam untuk lebih mengenal karya pelayanan pastoral. Karena pada saat itu, para imam tidak selalu memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam bidang teologi dan pastoral, apalagi kaum awam.
Pasca Revolusi Perancis
Pasca Revolusi Perancis, banyak kalangan Gereja yang mengikuti spirit Vinsensius karena dorongan semangat Gereja menyesuaikan dengan zaman. Kalau Gereja tidak mempedulikan keberadaan orang miskin, maka Gereja tidak akan bertahan di Perancis sampai saat ini. Mau tak mau Gereja mengenakan karya belas kasih ini sebagai bentuk pertobatan Gereja akan kondisi masyarakat saat itu. Sekaligus ingin menghapus jejaknya yang identik dengan kekuasaan dan kerajaan.
Perjuangan ini tidak mudah karena Gereja harus merevolusi dirinya sendiri, dan mengenakan spirit seperti yang Kristus ajarkan sendiri, mau melayani terutama kepada mereka yang miskin dan terlantar.
Menjadi Vinsensian zaman sekarang
Kata Vinsensian sering kita dengar dan kita pun bisa menjadi vinsensian. Vinsensian berarti menjadi followers atau pengikut dari Vinsensius. Apakah kita bisa? Tentu bisa, sesuai dengan konteks zaman kita. Masa pandemi ini, banyak orang yang mulai kehilangan pekerjaan, kesulitan mendapatkan penghasilan dan kehilangan keluarga karena terjangkit virus Corona ini. Keadaan seperti ini mengajak kita lebih peka terhadap situasi di sekitar kita, memberikan apa yang kita mampu berikan menjadi bukti bahwa kita peduli kepada sesama. Karena menjadi Vinsensian adalah menjadi pribadi yang peduli. Ayo, berlomba-lomba membantu yang membutuhkan bukan untuk menunjukkan diri kita, tetapi menjadi kepanjangan tangan Tuhan bagi sesama. Salam Vinsensian!
 
Cahya Sasangka, S.S
Guru Agama Katolik SMA Katolik St. Louis 2